Tahun 2026 menandai era baru dalam dunia komputasi personal. Jika satu dekade lalu kita berlomba-lomba merakit PC gaming dengan lampu warna-warni demi mendapatkan frame rate tertinggi, kini fokus dunia telah bergeser. Revolusi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara kita bekerja, dan bersamanya, mengubah kebutuhan perangkat keras kita. Di tengah gelombang ini, ASUS, raksasa teknologi asal Taiwan, tidak lagi hanya bermain di kolam laptop konsumer. Mereka meluncurkan sebuah perangkat yang mendefinisikan ulang batas antara komputer desktop dan superkomputer. Perangkat itu bernama ASUS Ascent GX10.

Bagi sebagian orang, nama ini mungkin terdengar asing atau disalahartikan sebagai varian baru laptop gaming seri ROG. Namun, anggapan itu salah besar. ASUS Ascent GX10 adalah sebuah Desktop AI Supercomputer dalam wujud Mini PC. Ini adalah mesin yang dirancang khusus untuk para ilmuwan data, pengembang aplikasi cerdas, dan peneliti yang lelah bergantung pada layanan cloud yang mahal dan lambat. Artikel ini akan membedah secara mendalam mengapa kotak kecil seharga mobil LCGC bekas ini bisa menjadi investasi teknologi terbaik yang pernah Anda buat.
Definisi Ulang Desktop PC: Kecil Namun Mematikan
Saat pertama kali melihat ASUS Ascent GX10, reaksi pertama kebanyakan orang adalah skeptis. Bagaimana mungkin sebuah kotak hitam berukuran 15 x 15 cm dengan ketebalan hanya 5 cm bisa disebut “superkomputer”? Secara fisik, ia lebih mirip dengan NUC (Next Unit of Computing) atau set-top box TV kabel daripada sebuah workstation bertenaga monster. Namun, di sinilah letak kejeniusan rekayasa ASUS.
Perangkat ini tidak ditujukan untuk gamer yang ingin memamerkan rig mereka di media sosial. Target pasarnya sangat spesifik: startup teknologi yang sedang melatih model bahasa mereka sendiri, laboratorium universitas yang melakukan simulasi molekuler, atau perusahaan yang sangat menjaga privasi data sehingga haram hukumnya mengunggah data ke server awan (cloud). Desainnya minimalis industrial, didominasi oleh kisi-kisi udara (mesh) yang dirancang secara aerodinamis untuk mendinginkan komponen padat di dalamnya tanpa menghasilkan kebisingan jet tempur. Ini adalah mesin yang “hening tapi menghanyutkan”.
Jantung Pacu Revolusioner: NVIDIA Grace Blackwell GB10
Rahasia di balik performa gila ASUS Ascent GX10 terletak pada komponen utamanya. ASUS tidak menggunakan prosesor Intel Core atau AMD Ryzen biasa. Mereka bekerja sama langsung dengan NVIDIA untuk menanamkan Grace Blackwell GB10 Superchip. Ini adalah sebuah keajaiban teknologi semikonduktor yang menggabungkan Unit Pemrosesan Pusat (CPU) berbasis arsitektur ARM dan Unit Pemrosesan Grafis (GPU) arsitektur Blackwell dalam satu papan sirkuit terpadu.
Penggunaan arsitektur ARM (seperti yang dipakai pada chip Apple M-series) memungkinkan efisiensi daya yang luar biasa, sementara arsitektur GPU Blackwell adalah penerus dari arsitektur Hopper yang legendaris di dunia AI. Gabungan keduanya menghasilkan tenaga komputasi sebesar 1 PetaFLOP (satu kuadriliun operasi per detik) untuk kinerja AI presisi FP4. Dalam bahasa manusia, ini berarti GX10 sanggup melakukan kalkulasi matematika rumit yang dibutuhkan untuk “mengajari” otak buatan dalam hitungan jam, pekerjaan yang biasanya memakan waktu berhari-hari pada PC konvensional dengan kartu grafis standar.
Memori Terpadu 128GB: Pengubah Permainan (The Game Changer)
Jika ada satu spesifikasi yang membuat para pengembang AI meneteskan air liur, itu adalah memori. Pada PC tradisional, memori terbagi dua: RAM untuk CPU dan VRAM untuk GPU. Masalah timbul ketika data harus bolak-balik dikirim antara kedua memori ini melalui jalur PCIe yang lambat. ASUS Ascent GX10 menghapus batasan tersebut dengan menghadirkan Memori Terpadu (Unified Memory) LPDDR5X sebesar 128GB.
Konsep ini mirip dengan apa yang dilakukan Apple pada Mac Studio, namun dengan skala dan fokus enterprise yang lebih brutal. Dengan memori sebesar dan secepat ini, seluruh model bahasa besar (Large Language Model/LLM) dengan ukuran hingga 200 Miliar parameter bisa dimuat seluruhnya ke dalam memori chip. Implikasinya sangat masif. Anda bisa menjalankan chatbot cerdas sekelas Llama-3 atau Mistral secara lokal di meja Anda, tanpa koneksi internet, dengan respons yang instan (latensi nol). Tidak ada lagi waktu tunggu loading yang menyebalkan. Ini adalah fitur yang membuat ASUS Ascent GX10 spesifikasi-nya terasa jauh di depan zamannya.
Analisis Harga: Mengapa 85 Juta Rupiah Itu “Murah”?
Sampai di sini, mungkin Anda bertanya-tanya, berapa harga untuk semua kecanggihan ini? Di pasar Indonesia per awal tahun 2026, ASUS Ascent GX10 harga-nya berkisar di angka Rp 85.000.000 hingga Rp 90.000.000. Bagi konsumen awam, angka ini terdengar tidak masuk akal. “Mending rakit PC pakai RTX 4090!” mungkin begitu komentar netizen.
Namun, mari kita berhitung dengan kacamata bisnis. Jika sebuah perusahaan harus menyewa server GPU A100 atau H100 di layanan cloud seperti AWS atau Google Cloud untuk melatih model AI mereka, biaya sewanya bisa mencapai ribuan dolar per bulan. Dalam waktu 12 hingga 18 bulan, biaya sewa tersebut sudah setara dengan harga beli satu unit GX10. Bedanya, dengan membeli GX10, perangkat itu menjadi aset milik perusahaan selamanya. Data tidak perlu keluar dari gedung kantor (aman dari kebocoran), dan eksperimen bisa dilakukan 24 jam non-stop tanpa takut tagihan cloud membengkak. Dalam konteks ini, harga 85 juta rupiah adalah bargain atau penawaran yang sangat murah untuk sebuah kemandirian teknologi.
Mitos Gaming: Apakah Bisa Dipakai Main Game?
Mengingat harganya yang fantastis, wajar jika ada yang bertanya: “Apakah PC ini bisa melibas Cyberpunk 2077 rata kanan?” Jawabannya: Secara teknis mungkin bisa, tapi sangat tidak disarankan.
Pertama, arsitektur CPU-nya adalah ARM, bukan x86 seperti Intel/AMD. Artinya, game Windows biasa tidak bisa berjalan secara native (langsung). Harus melalui lapisan emulasi yang akan memangkas performa drastis. Kedua, GPU Blackwell di dalamnya dirancang untuk kalkulasi Tensor (matematika matriks), bukan untuk Rasterization (menggambar piksel grafis game). Driver-nya pun dioptimalkan untuk Linux Ubuntu dan library AI seperti PyTorch atau TensorFlow, bukan untuk DirectX yang dipakai game. Membeli ASUS Ascent GX10 untuk bermain game ibarat membeli mobil Formula 1 untuk dipakai belanja ke pasar: bisa jalan, tapi sangat tidak nyaman, boros, dan menyalahi kodrat mesinnya.
Ketersediaan dan Pasar Barang Bekas
Bagaimana jika budget Anda terbatas dan ingin mencari unit seken? Sayangnya, mencari ASUS Ascent GX10 harga bekas di tahun 2026 ini ibarat mencari jarum di tumpukan jerami.
Alasannya sederhana. Perangkat ini baru dirilis secara global pada Oktober 2025. Usianya belum genap setahun. Selain itu, perusahaan atau individu yang membelinya biasanya menggunakannya untuk proyek jangka panjang (3-5 tahun). Tidak ada alasan bagi mereka untuk menjualnya kembali dalam waktu dekat kecuali bangkrut. Jika pun ada unit bekas yang muncul di forum jual beli, harganya diprediksi tidak akan jatuh jauh dari harga barunya, mengingat kelangkaan chip AI di pasar global saat ini. Barang ini termasuk kategori aset investasi yang nilainya sangat terjaga (high retention value).
ASUS Ascent GX10 adalah bukti nyata bahwa masa depan komputasi tidak selalu tentang layar besar atau lampu kelap-kelip. Masa depan adalah tentang efisiensi, densitas performa, dan kecerdasan. Bagi pengguna rumahan biasa, perangkat ini jelas berlebihan (overkill). Namun bagi para pionir di bidang kecerdasan buatan, peneliti, dan pengembang teknologi, ASUS Ascent GX10 adalah “Holy Grail” yang selama ini dinanti. Ia menawarkan kebebasan dari belenggu biaya sewa server, keamanan privasi data, dan kecepatan eksperimen yang tak ternilai harganya. Di harga 85 jutaan, ia bukan sekadar komputer; ia adalah mesin pencetak masa depan.
Interogator Blog teknologi gadget canggih terbaru

